- Diterbitkan pada
Dulu Aku Dibully, Sekarang Aku Justru Berterima Kasih — Ini Alasannya

Ketika "Beda" Berarti "Sendirian"
SMP sampai SMA seharusnya jadi masa-masa terbaik dalam hidup. Tapi buat aku? Itu justru jadi periode tersulit.
Aku bukan sekadar murid pindahan — aku murid yang datang dari daerah yang completely beda. Logat beda. Referensi budaya beda. Cara ngomong, cara becanda, semuanya beda. Dan dalam eksosistem sosial sekolah yang spesifik, perbedaan itu nggak bikin kamu jadi menarik. Malah bikin kamu jadi sasaran.
Awalnya aku yakin ini cuma sementara. Orang-orang bakal penasaran, nanya-nanya, mungkin malah ngerasa keren karena aku dari tempat lain. Ternyata yang terjadi nggak gitu.
Aku malah perlahan dijauhi. Obrolan berhenti kalau aku mendekat. Undangan untuk nongkrong bareng nggak pernah datang. Candaan mulai terasa bukan kayak candaan, tapi lebih kayak sindiran. Ada momen-momen tertentu — momen yang masih aku inget dengan jelas — yang benar-benar menyakitkan.
Datang ke sekolah mulai terasa berat. Duduk di kelas jadi nggak nyaman. Dan aku menemukan diriku terus menanyakan pertanyaan yang sama: "Salah aku apaan sih?"
Pelarian yang Aku Temukan di YouTube
Waktu dunia nyata nggak menawarkan banyak kenyamanan, aku menghabiskan lebih banyak waktu sendirian sama laptop. Awalnya cuma pelarian — nonton video, belajar hal random, membunuh waktu.
Tapi kemudian sesuatu berubah. Aku mulai penasaran gimana video-video itu dibuat. Gimana creator edit kayak gitu? Darimana mereka dapat ide? Gimana cara mereka membangun audience?
Suatu hari, duduk di kamar setelah hari yang berat di sekolah, satu pikiran muncul di kepala:
"Kenapa nggak coba bikin channel sendiri aja?"
Rasanya berisiko. Bagaimana kalau nggak ada yang nonton? Bagaimana kalau orang-orang dari sekolah menemukan dan nge-bully? Tapi honestly, di titik itu, apa yang aku punya untuk hilang?
YouTube jadi pelarianku. Bukan pelarian dari realitas dengan cara yang destruktif, tapi pelarian ke dalam sesuatu yang bisa aku kontrol. Ruang dimana aku nggak perlu menjelaskan diri atau menyesuaikan. Ruang dimana aku bisa jadi diriku sendiri, siapapun itu, dan mencari tahu sambil jalan.
Dari Hobi Jadi Sesuatu yang Nyata
Aku mulai upload konsisten. Video simpel di awal — nggak fancy. Aku rekam, edit pakai software basic, terus post. Kebanyakan dapat mungkin 20 views. Kadang kurang.
Tapi aku tetap jalan.
Aku belajar dari kesalahan. Video yang nggak berhasil dihapus. Konsep yang terasa aneh direvisi. Perlahan, dengan menyakitkan perlahan, aku jadi lebih baik.
Views-nya tetap kecil untuk waktu yang lama. Subscriber masuk satu-dua orang tiap waktu. Tapi ini yang penting: aku punya sesuatu yang nggak aku punya di tempat lain — alasan untuk bangun dengan excited.
Terus, pas kelas 2 SMA, sesuatu yang nggak terduga terjadi. Channel aku mencapai 40,000 subscribers.
Buat kasih perspektif: aku nggak bikin konten viral atau dapat jutaan views. Nggak ada sponsor gede atau perhatian media. Tapi buat aku, yang duduk sendirian di kamar dimana nggak ada yang mau ngomong sama aku di sekolah, 40,000 orang itu terasa seperti bukti.
Bukti bahwa aku bisa membangun sesuatu. Bukti bahwa ada yang peduli sama apa yang aku bilang. Bukti bahwa aku nggak invisible kayak yang aku rasain.
Kesalahan yang Menghentikan Semuanya
Ini bagian dimana aku harus completely jujur soal sesuatu yang aku salah.
Aku pikir motivasi itu cukup.
Waktu aku merasa terinspirasi, aku upload tiga kali seminggu. Waktu aku merasa lelah atau berkecil hati, aku berhenti. Aku nggak membangun sistem. Aku nggak membuat jadwal. Aku cuma mengikuti gelombang bagaimana perasaanku.
Dan itu berhasil... sampai nggak berhasil.
Motivasi itu nggak stabil. Beberapa hari kamu bangun siap untuk menaklukkan dunia. Hari lain, kamu barely bisa keluar dari kasur. Kalau seluruh output kreatif kamu bergantung pada motivasi, kamu bakal kesulitan waktu itu memudar.
Dan itu memudar. Views aku stagnan. Pertumbuhan subscriber terhenti. Bukan karena konten jadi lebih buruk necessarily, tapi karena aku berhenti muncul secara konsisten.
Aku belajar pelajaran yang keras: talenta dan passion nggak berarti banyak tanpa disiplin.
Looking back, aku bertanya-tanya dimana channel itu bisa sampai kalau aku membangun kebiasaan yang lebih baik. Kalau aku memperlakukannya seperti sesuatu yang layak dilindungi, bukan cuma sesuatu yang aku lakukan waktu aku merasa suka.
Kenapa Aku Bersyukur Sekarang (Dan Apa yang Itu Ajarkan)
Ini bakal terdengar aneh, tapi aku benar-benar bersyukur aku mengalami dibully itu.
Biar jelas: aku nggak bilang bullying itu okay. Aku nggak meromantisasi rasa sakit atau menyarankan orang perlu menderita untuk tumbuh. Bukan itu poinnya.
Yang aku bilang adalah bahwa kesulitan mengajarkan aku hal-hal yang kenyamanan nggak pernah bisa:
Itu mengajariku bagaimana sendirian tanpa merasa nggak berharga. Aku belajar bahwa menyendiri nggak sama dengan nggak diinginkan atau rusak. Kadang itu cuma fase, dan kadang itu exactly dimana kamu perlu berada.
Itu mengajariku ketahanan. Waktu kamu sudah cukup sering ditolak, kamu berhenti mengambil penolakan terlalu serius. Kamu menyadari itu nggak selalu tentang kamu. Kadang orang cuma... ya orang.
Itu mengajariku untuk mencari jalan sendiri. Kalau semuanya mudah, aku mungkin nggak pernah memulai YouTube. Aku mungkin cuma santai melewati sekolah, mengikuti apa yang orang lain lakukan, dan nggak pernah menemukan apa yang sebenarnya aku pedulikan.
Itu mengajariku bahwa rasa sakit bisa jadi bahan bakar. Bukan dengan cara toxic "gunakan kemarahan kamu", tapi dengan cara fokus "salurkan ini jadi sesuatu yang produktif". Kesepianku mendorongku untuk menciptakan. Frustrasi ku mendorongku untuk memperbaiki.
Kalau hidupku waktu itu nyaman dan mudah, aku benar-benar nggak pikir aku bakal menemukan YouTube, membangun channel itu, atau belajar pelajaran yang membentuk siapa aku jadi sekarang.
Untuk Siapapun yang Sedang Melewati Ini Sekarang
Kalau kamu currently mengalami sesuatu yang mirip — merasa terisolasi, dikucilkan, kayak kamu nggak punya tempat — aku mau bilang beberapa hal:
Fase ini nggak akan bertahan selamanya. Aku tahu itu terasa permanen sekarang. Itu terasa permanen untukku juga. Tapi SMA berakhir. Kuliah beda. Kerja beda. Kamu eventually menemukan orang-orangmu, meskipun butuh waktu lebih lama dari yang kamu mau.
Kamu nggak rusak. Seriously. Cuma karena orang nggak melihat value kamu sekarang doesn't mean itu nggak ada di sana. Beberapa orang butuh waktu lebih lama untuk menemukan tribe mereka. Itu okay.
Gunakan waktu ini, tapi jangan mengandalkan cuma motivasi. Temukan sesuatu yang kamu pedulikan dan bangun kebiasaan di sekitarnya. Bukan karena kamu merasa terinspirasi setiap hari, tapi karena kamu membuat komitmen pada dirimu sendiri.
Bangun disiplin, bukan cuma mimpi. Mimpi adalah titik awal yang bagus. Tapi mereka nggak jadi kenyataan melalui wishful thinking. Mereka jadi kenyataan melalui terus muncul, terutama waktu kamu nggak merasa suka.
Orang yang berhasil bukan yang tetap termotivasi paling lama. Mereka yang terus berjalan waktu motivasi menghilang.
Looking back sekarang, bertahun-tahun kemudian, aku bisa melihat gimana musim yang sulit itu membentuk aku dengan cara yang aku nggak bisa pahami waktu itu. Bullying-nya menyebalkan. Aku nggak akan menginginkan pengalaman itu untuk siapapun. Tapi itu mendorongku ke arah yang aku nggak pernah akan eksplorasi sebaliknya.
Kadang bab-bab tersulit menulis pelajaran paling penting.
